Mengukur Kebugaran

Salah satu syarat agar tujuan kita berolahraga tercapai, adalah aktivitas tersebut dilakukan sesuai takaran, sesuai dengan kemampuan dan kesiapan fisik. Betul kata bu Intan, senam aerobik adalah olahraga yang melelahkan (bagi orang yang tidak bisa(mampu) dan tidak biasa(siap) melakukannya). Bagi Mas Farad-yang tidak biasa aerobik, akan merupakan exercise yang berat mengikuti pemanasan selama 15menit senam aerobiknya Vicki Burki-yang guru aerobik.

Kita dapat mengetahui kemampuan dan kesiapan fisik kita dengan mengukurnya. Untuk mengukur secara tepat dan menyeluruh memang diperlukan rangkaian test dan peralatan yang canggih. Namun untuk keperluan praktis sebetulnya sangat sederhana dan kita bisa melakukannya kapan saja; yaitu dengan menghitung denyut nadi. Denyut nadi, yang biasanya dihitung jumlahnya dalam satu menit, menggambarkan kemampuan jantung kita memompa darah ke seluruh tubuh.

Olahragawan (terlatih) memiliki denyut nadi (jauh) lebih kecil dibanding bukan olahragawan. Konon, Rudi Hartono-maestro badminton kita, pada masa jayanya memiliki jumlah denyut nadi dibawah 40/menit dalam keadaan rest/istirahat. Coba hitung denyut nadi anda. Jika jumlah denyutnya 80/menit, artinya jantung anda bekerja lebih keras dua kali lipat dibanding jantungnya Om Rudi, atau dengan kata lain jantung Om Rudi dua kali lebih kuat dari jantung anda (?).

Denyut nadi akan meningkat sesuai dengan intensitas aktivitas(exercise) yang dilakukan, dan mencapai angka paling tinggi ketika intensitas aktivitas maksimal (umumnya 180-200/menit, tergantung usia). Denyut nadi paling rendah umumnya ada ketika kita dalam kondisi paling ’rest’, misalnya sesaat setelah bangun tidur. Denyut nadi maksimal ada ketika kita mengerahkan seluruh kemampuan fisik, misalnya: pada lari sprint atau berenang dalam jarak tertentu.

Oh ya, denyut nadi juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, jika kita sedang dalam kondisi sakit umumnya denyut nadi akan lebih tinggi frekwensinya dibanding ketika sehat. Mungkin juga, denyut ini juga membawa karakteristik lain ketika kondisi sakit. Konon, tabib-tabib China dan India(?) yang mempraktekkan pengobatan tradisional, mampu mendiagnosa berbagai penyakit hanya dengan menyentuh dan merasakan denyut nadi pasiennya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengukur kemampuan fisik secara umum? Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1) Hitung denyut nadi, seketika baru bangun tidur, untuk mendapatkan denyut nadi dalam keadaan istirahat.

2) Kita bisa melakukan test sederhana berikut, kalau tidak salah namanya Test Aerobik (juga). Kita melakukan aktivitas berjalan (cepat)-joging-lari selama 12 menit, diusahakan jarak yang kita tempuh adalah jarak maksimal yang bisa kita capai. Sebaiknya dilakukan di lintasan lari (yang mempunyai ukuran jarak; keliling terdalam standarnya adalah 400 meter), seperti di Lintasan lari Sabuga, stadion Pajajaran, Lapang Gasibu atau Gelora Saparua (380meter), sehingga jumlahnya bisa langsung kita konversi. Jika kita mampu menempuh 5 keliling, berarti 2Km, 8keliling 3,2Km.

Dua hal tersebut, saya kira cukup dapat menggambarkan Kondisi kebugaran dan kemampuan fisik.

Selamat mencoba, Trims.

Explore posts in the same categories: Belajar, Olah Raga

3 Comments on “Mengukur Kebugaran”

  1. roisz Says:

    ngukur denyutnadinya sih oke
    tapi, kalau urusan larinya
    nanti dulu aja

    salam kenal dari Mang Roisz

  2. bambang Says:

    salam kenal kembali Mas..
    Mas Roiz teh tim nya pak Budi Rahardjo tea ya..
    Trims.

  3. heri Says:

    wah sip mas bisa buat refrensi tugas akhirq, thenk u


Comment: